Manfaat Ilmiah Habbatussauda terhadap Sistem Kekebalan Tubuh


Manusia, secara wajar menghadapi berbagai jenis bakteri, virus, jamur dan parasit yang menyerang kita melalui kulit, jalan pernafasan, saluran pencernaan, membran yang ada didalam mata dan sistem urine yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berbahaya andaikata mampu menembus organ dalam tubuh, selain jumlah yang terus bisa hidup secara alamiah didalam tubuh kita.

Tetapi, merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah SWT., kepada kita bahwa Dia menciptakan sistem khusus di dalam tubuh kita untuk melindunginya dari serangan luar yang berasal dari partikel-partikel kecil ini beserta racun-racun yang dikeluarkannya dari dalam tubuh. Sistem ini disebut sebagai sistem kekebalan. Sistem ini melaksanakan 2 fungsi yang saling menyempurnakan untuk mencegah penyakit dan menghindari penyebabnya yang menyerang tubuh, mungkin dengan menghancurkannya melalui proses makan sel (fagositosis) atau dengan memproduksi antibodi dan sel-sel spesifik yang sesuai dengan struktur setiap partikel yang menyerang tubuh. Hal itu sebagai jaminan untuk memusnahkannya secara tuntas. Berdasarkan hal itu, maka kekebalan yang diberikan oleh sistem ini bagi tubuh, bisa dibagi menjadi 2 bagian pokok, kekebalan alami dan kekebalan yang didapat.

Kekebalan Alami (Natural Immunity)

Garis pertahanan pertama bagi tubuh adalah ketika ia beraksi untuk mencegah masuknya atau menghancurkan penyerang sebelum ia berhasil menginfeksi jaringa, berkembang biak dan menyebabkan timbulnya penyakit. Ini disebut kekebalan nonspesifik (nonspecific immunity), dimana kekebalan ini diarahkan untuk menghambat seluruh mikro organisme dan faktor asing yang berbahaya yang hendak menyerang, melalui satu cara. Kekebalan ini bekerja melalui beberapa mekanisme sebagai berikut :

Mekanisme makanik, fisikawi dan kimiawi.

Mekanisme ini berfungsi melindungi tubuh dari para penyerang, contohnya kulit, selaput lendir yang berada di dalam sitem pernafasan, sistem pencernaan, sistem reproduksi, sistem urine dan konjungtiva (selaput lendir yang ada di kelopak mata), ia membentuk pembatas mekanik untuk mencegah masuknya partikel-partikel lain ke dalam tubuh, disamping sekret (produk kelenjar) kulit mengandung zat-zat aktif yang bisa membunuh bakteri, seperti asam susu (lactic acid) yang terdapat di dalam keringat, asam lemak (fatty acid) yang terdapat di kulit orang-orang dewasa, kotoran telinga yang merupakan zat anti bakteri disebabkan kandungan asam oleat (oleicacid), serta berbagai selaput dalam yang mengandung zat-zat pembunuh bakteri, seperti lisosom (organel sel bentuk gelembung, terdapat dalam sitoplasma dan mengandung berbagai enzim untuk mencernakan berbagai bahan yang masuk sel, kecuali loga, pasir dan asbes. Lisosom aktif dalam proses makan [fagositosis] dan minum [pinositosis] sel. Juga menggetahkan produk sel (eksositosis] dan mendaur ulang organel dan bahan lain dalam sel yang rusak atau aus.), maupun pembunuh virus. Di samping itu masih ada mekanisme gerakan cairan lendir di siistem pernafasan yang bisa membersihkan bakteri-bakteri dan parikel-partikel asing sejak dini.

Bakteri-bakteri yang secara alamiah terdapat didalam tubuh (flora normal)

Flora normal adalah bakteri-bakteri yang tidak menyebabkan penyakit, yang dalam jumlah besar hidup didalam usus, mulut dan tempat-tempat lain di tubuh manusia. Ia memiliki peran penting dalam melindungi tubuh, karena ia menjadi media yang tidak cocok dengan jenis-jenis bakteri yang menimbulkan penyakit, membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri tersebut.

Beberapa unsur kimia darah

Beberapa unsur kimia yang terdapat dalam darah akan menempel pada bakteri-bakteri penyerang atau racun-racun, lantas menghancurkannya. Beberapa unsur yang berperan tersebut seperti sel-sel berbadan besar, basic polypeptides dan unsur-unsur lain yang menghilangkan efek beberapa jenis bakteri tertentu.

Kumpulan Interferon

Interferon dihasilkan oleh sel-sel hati, ketika terjadi penyerangan oleh virus sebelum diproduksinya antibodi. Unsur-unsur ini disebut sebagai unsur-unsur pertahanan, karena ia merangsang jaringan-jaringan tubuh agar melakukan perlawanan pada saat virus yang lain datang, lantas mencegah pertumbuhannya, sehingga antibodi bisa segera memusnahkannya.

Sistem pelengkap (complement)

Sistem ini terdiri dari sekitar 20 protein. Tugasnya adalah mengaktifkan prosis perlendiran di setiap sel darah putih dan sel lendir, menetralisasi virus dan menjadikannya tidak mampu berkembangbiak, melokalisasi daerah terinfeksi dan penyerang secara bersamaan, serta memusnahkan mikroba sebelum terbentuknya anti bodi spesifik yang menhancurkannya.

Fagositosis (phagocytosis)

Fagositosis adalah proses memakan, membunuh dan menghancurkan partikel-partikel dan unsur-unsur asing melalui sel-sel darah putih yang dikenal dengan sel-sel pemakan (fagosit), yaitu sel-sel yang bergerak dalam sistem pertahanan tubuh. Sel-sel ini terbentuk dari sumsum tulang, kemudian berpindah ke darah dan ke seluruh jaringan tubuh. Kepentingannya yang paling mendasar terletak pada perpindahannya yang cepat ke bagian-bagian terinfeksi yang berbahaya untuk membentuk pertahanan yang cepat dan kuat melawan partikel penyerang. Sel-sel ini melumpuhkan aktivitas dan menghancurkan partikel asing yang menyerang tersebut. Ada beberapa jenis sel pemakan, diantaranya :

  1. Sel-sel pemakan besar (makrofaga). Terdiri dari sel-sel darah putih yang berinti tunggal (monocytes). Ketika sel-sel ini memasuki jaringan, ia membesar dan berubah menjadi sel-sel pemakan besar dan berinteraksi dengan jaringan. Ia terus berinteraksi dengan jaringan-jaringan selama beberapa bulan atau beberapa tahun, melindunginya dan memakan sejumlah besar bakteri, virus, sel-sel mati dan partikel-partikel asing. Sel-sel pemakan besar ini berkonsentrasi pada sentra-sentra vital di tubuh untuk melindunginya dari bahaya partikel penyerang. Jenisnya berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan tempat, penampakan, ukuran dan gerakannya. Didalam hati, ia disebut sel-sel kupffer, dialam darah disebut sel-sel monosit, didalam paru-paru disebut dengan sel-sel makrofage alveolar. Adapun bila terdapat di dalam cairan yang terbentuk karena adanya berbagai infeksi, maka disebut sel-sel pemakan besar (makrofaga). Hati dan limpa memiliki kadar kandungan makrofaga paling tinggi.
  2. Sel-sel pemakan kecil (mikrofaga). Mikrofaga terdiri dari sel-sel darah putih, seperti sel berwarna netral (netrofil, neutrophil), sel-sel berwarna eosin (eosinofiil, eosinophil) dan ukurannya lebih kecil dari pada sel-sel pemakan pada jaringan, jumlahnya semakin banyak pada saat terjadinya infeksi yang serius hingga mencapat 60% dari jumlah keseluruhan sel darah putih.


Proses memakan (fagositosis) dimulai dengan tarikan kimiawi terhadap faktor-faktor asing, pelekatannya pada sel-sel pemakan bisa dilakukan melalui kaki-kaki palsu (pseudopodia), sehingga berhasil ditelan didalam sel pemakan. Pada saat itu, unsur asing tersebut dibunuh, jika sebelumnya hidup, akibat dikeluarkannya Hidrogen Peroksida (H2O2) dan derivatnya. Setelah itu dimulai proses pencernaannya melalui enzim-enzim yang keluar dari butiran-butiran kecil yang terdapat dalam material (cytoplasma), kemudian bagian-bagiannya bisa terpampang di atas permukaan sel pemakan, agar struktrunya dikenali oleh sel-sel limphoid.

Sel-sel pembunuh

Sel-sel pembunuh berfungsi membunuh sel-sel berbahaya yang besar yang tidak dapat dihancurkan oleh sel-sel pemakan, dikarenakan ukurannya yang terlalu besar. Misalnya, sel-sel tubuh yang terkena salah satu virus penyebab sakit dan sel-sel kanker. Ada 2 jenis sel pembunuh yang aktfi dalam proses natural immunity, yaitu :
  1. Sel-sel pembunuh alami (natural killer cells). Sel-sel pembunuh alami merupakan sel-sel limphoid yang paling besar, memiliki banyak butiran kecil yang mengandung enzim-enzim yang aktif menembus membran seluler sel-sel tersebut menccair dan mati. Sel-sel pembunuh alami ini bekerja tanpa rangsangan dan tidak pernah berubah menjadi sel-sel lain.
  2. Sel-sel Asidofil (acidophil). Sel-sel ini spesialis pembunuh cacing yang membahayakan tubuh, seperti cacing schistosoma. Carannya, sel-sel ini menempel pada permukaan cacing, setelah itu ia mengeluarkan enzim-enzim yang terus berinteraksi dengan cacing itu dan akhirnya membunuhnya.


Kekebalan yang Didapat atau Kekebalan Spesifik (Specific Immunity)

Kekebalan spesifik adalah kemampuan tubuh untuk membentuk kekebalan spesifik yang kuat dan sempurna menghadapi seluruh faktor luar yang menyerang tubuh sekaligus, disebut pula dengan “kekebalan yang didapat” (acquired immunity).

Ia adalah faktor kekebalan yang diperoleh tubuh sebagai responnya terhadap faktor luar yang mengmbus pertahanan-pertahanan tubuh dan menempati jaringan-jaringan, bisa jadi hal itu menyebabkan penyakit yang nyata, misalnya mikroba-mikroba perusak, virus-virus, racun-racun dan jaringan-jaringan asing dari hewan-hewan lain.

Kekebalan ini terbentuk dari jaringan limfa dan sel-sel limphoid yang memproduksi antibodi serta beberapa sel limphoid spesifik yang berdaya bunuh terhadap mikroba yang menyerang, sesuai denga struktur dan karakteristiknya.

Sel-sel Limfosit sebagai Pertahanan Khusus

Sel-sel limphoid merupakan senjata yang paling spesifik dan siap siaga untuk menghadapi segala jenis penyerang dengan berbagai karakteristiknya yang spesifik dan racun-racunya yang mematikan. Sel-sel ini dianggap sebagai senjata pertahhanan yang paling tangguh di arena pertarungan. Mari kita coba mengenali sel-sel ini dan melihat bagaimana ia bekerja secara spesifik melawan setiap partikel asing yang berada di dalam tubuh.
Sel-sel limphoid spesifik, terdiri dari 2 jenis, yaitu sel-sel B dan sel-sel T.
  1. Sel B (B lymphocytes). Sel B terrbentuk di dalam sumsum tulang dan tinggal di dalamnya sampai pertumbuhannya sempurna dan menjadi sel-sel yang aktif. Kemudia ia menyebar ke seluruh bagian tubuh yang bermacam-macam dan berkonsentrasi di dalam darah, limpa, tonsil, simpul limfa dan setelah bergerak ia akan berpartisipasi dalam menyerang partikel-partikel asing dengan cara memproduksi antibodi atau yang dikenal dengan sebutan badan kekebalan.
  2. Sel T (T lymphocytes). Sel T terbentuk di dalam sumsum tulang, kemudian sebelum pertumbuhannya sempurna, ia meninggalkan sumsum tulang tersebut menuju kelenjar-kelenjar timus dengan perantara parikel-partikel penarik tertentu yang dikeluarkan oleh kelenjar tersebut. Sel ini tetap berada di sana hingga pembelahan dan pertumbuhannya sempurna. Dari situ, sel T meninggalkan kelenjar timus dan menyebar ke seluruh bagian tubuh yang bermacam-macam untuk berpartisipasi dalam proses sitem kekebalan.


Sel T yang sudah matang terbagi menjadi tiga jenis utama, masing-masing jenis memiliki fung tertentu :

Sel T Pembantu (The helper T-Cells)

Sel-sel ini memainkan beberapa fungsi dan membantu sistem kekebalan melalui beberapa cara yang terpenting di antaranya adalah merangsang aktivitas sel-sel pembunuh, sel-sel penekan (suppressor) dan sel-sel B.

Sel T juga merangsang respon sel-sel pemakan untuk menelan partikel-partikel asing dengan mengeluarkan sejumlah partikel protein yang diketahui sebagai stimulans bagi sel-sel, seperti interleukin dan interferon yang membantu dan merangsang pembelahan, pertumbuhan dan pembiakan berbagai macam sel sistem kekebalan sehingga sampai pada kondisi siap siaga untuk berrpartisipasi dalam proses pertahanan diri.

Sel-sel ini membawa simbol-simbol permukaan yang terdiri dari glukoprotein yang melekat pada membran luarnya, dirumuskan dengan berbagai angka yang berbeda-beda untuk membedakan jenis-jenisnya yang bermacam-macam maupun dari berbagai jenis sel lain.

Sel-sel Pembunuh (Killer Cells) dan Perusak Sel (Cytoxic Cells).

Sel pembunuh membantu sistem kekebalan menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus dan sel-sel kanker. Sel pembunuh memiliki karakteristik mudah di rangsang dengan partikel-partikel yang dikeluarkan oleh sel T pembantu, sehingga berubah menjadi sel-sel pembunuh yang aktif. Pada dinding sel-sel ini terdapat bagian-bagian independen dengan bentuk yang bermacam-macam (seperti antibodi), sel-sel ini jumlahnya melebihi 100 ribu reseptor di atas dinding setiap sel, melekat kuat pada bagian-bagian partikel penyerang dan tidak melepaskan diri darinya sehingga partikel tersebut dibersihkan. Sel-sel pembunuh juga langsung menyerang partikel-partikel asing. Ia mampu membunuh partikel-partikel yang sangat lembut dengan cara mengeluarkan materi-materi beracun yang dibuat didalam sel itu sendiri langsung berhadapan dengan sel yang menyerang dan setiap sel pembunuh bisa menyerang berbagai macam partikel kecil, satu persatu, sebagaimana sel ini juga memiliki peran penting dalam menghancurkan sel-sel kanker atau sel-sel mana saja yang asing dari tubuh.

Sel pembunuh meninggalkan sel terinfeksi sebelum benar-benar membunuhnya, agar ia mati sendiri, lantas sel pembunuh mencari sel-sel lain yang terinfeksi, menelannya, lantas mulai membunuhnya.

Demikianlah, seluruh partikel penyerang dan partikel asing akhirnya dapat dibersihkan.

Sel-sel Penekan (Suppressor Cetts ts.)

Sel-sel ini menekan aktivitas sel-sel pembunuh dan sel-sel pembantu, setelah berakhirnya pertempuran dengan partikel penyerang. Caranya dengan mengeluarkan sejumlah partikel penghalang yang mempengaruhi dan menghalangi sel-sel tersebut dari kondisi aktif sehingga beralih kepada kondisi normal dan nonaktif, itu terjadi di akhir masa infeksi, sehingga kondisi pulih seperti semua, sehingga interaksi dan aktivitas sistem kekebalan tidak berlanjut yang akibatnya bisa menghancurkan badan sendiri.

Sebelum menjelaskan mekanisme kerja sel-sel kekebalan sepesifik, kita harus mengenali tiga istilah penting terlebih dahulu, yaitu :

Antigen

Antigen adalah bagian-bagian bakteri penyerang atau partikel asing yang terdapat mungkin dinding sel (untuk bakteri) atau di membran luar untuk virus.

Antigen bekerja merangsang sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi yang dibutuhkan untuk membunuh mikroba atau partikel asing.

Antibodi

Antibodi adalah globulin-globulin kekebalan (imunoglobulin) yaitu sebuah protein bentuk bundar yang berinteraksi dengan antigen pada masa-masa pembunuhan partikel asing yang menyerang tubuh manusia atau hewan.

Semua antibodi berhubungan erat dengan antige yang sangat mirip dengannya dan menyebabkan pembentukannya, semakit kuat kemiripan antara keduanya, maka semakin erat pula hubungan antara keduanya.

Gambaran paling sederhana antibodi adalah struktur beberapa unsur protein yang terdiri dari empat rantai atau seri peptida (amida yang berasal dari beberapa asam amino dan diperoleh dengan hidrolisis atau protein), yaitu dua rantai ringan dan dua rantai berat, di mana panjang satu unit mencapai sekitar seratus asam nukleat. Ia tersusun menyerupai bentuk huruf Y. Setiap antibodi berinteraksi dengan antigen khusus, sesuai dengan kode khusus ibarat interaksi antara gembok dengan kunci. Karena jenis struktur kimia dan atom seri berat dan ringan tersebut banyak, maka antibodi juga memiliki bentuk yang berbeda-beda, bisa jadi jumlah antibodi di dalam tubuh mencapai lebih dari satu milyar.

Ada lima jenis antibodi berdasarkan jenis seri berat, ukuran dan struktur asam amino antibodi tersebut, yaitu Igm, IgG, IgA, IgD dan IgE.

Yang paling penting di antaranya adalah golongan immunoglobulin G (IgG), karena ia membentuk 75% antibodi pada tubuh normal, tersebar di berbagai jaringan dan berpindah dari ibu kepada janin melalui plasenta.

Adapun golongan immunoglobulin M (igm) berpartisipasi besar dalam respon pertama produksi antibodi dan hanya terdapat di dalam darah, tidak bisa berpindah melalui plasenta dikarenakan ukurannya yang terlalu besar.

Antibodi melindungi tubuh manusia dari partikel asing yang menyerang melalaui 2 cara, mungkin dengan langsung menyerang kepada partikel asing atau dengan merangsang sistem pelengkap yang bisa menghancurkan partikel penyerang.

Keterikatan Antara Antigen dan Antibodi

Antibodi memiliki keterikatan dengan antigen melalui salah satu dari 4 ikatan kimiawi yang dikenal. Posisi tempel pada antibodi berbentuk cekung dan agar persenyawaan tersebut sempurna dan bisa aktif, maka posisi persenyawaan pada protein virus (antigen)harus berbentuk cembung.
Bagaimana Sel-sel Kekebalan Bekerja dan Bagaimana Reaksi Kekebalan Terjadi ?
Sel-sel sitem kekebalan dengan berbagai jenisnya itu berkerja sama dan berinteraksi satu sama lain untuk menghadapi dan memerangi partikel asing yang berusaha masik ke tubuh manusia. Proses pertarungan pertama terjadi dengan sel-selk pemakan (fagosi) yang memakan dan menghancurkan partikel asing serta kembali memampangnya di atas permukaan sel sekali lagi dalam bentuk partikel-partikel protein sederhana untuk disajikan kepada sel-sel limfosit T pembantu dan bersenyawa dengannya dan dari persenyawaan itu sel T mengeluarkan stimulans-stimulans sel yang berfungsi merangsang berbagai macam sel sistem kekebalan agar masing-masing sel bewrpartisipasi sesuai dengan peran dan fungsinya dalam mencegah bahaya yang mengancam tubuh.

Sebagai contoh, masing-masing dari sel T perusak, sel pembunuh dan sel pembunuh natural mulai mengidentifikasi sel-sel di dalam tubuh yang terinfeksi partikel-partikel asing, lantas menghancurkannya.

Adapun sel-sel darah putih yang berbentuk granula (butiran halus) dengan ketiga jenisnya (neutrofil, eosonofil dan basofil [sel darah putih yang meresap zat warna yang bersifat basa]), ketika menerima rangsangan, beraksi dengan mengeluarkan enzim-enzim yang bermacam-macam yang berfungsi menaikkan dan melekatkan sel-sel sistem kekebalan pada bagian terinfeksi, sebagaimana stimulans sel bekerja merangsang sel-sel limfosit B untuk membelah, membiak dan mengeluarkan berbagai macam antibodi yang memudahkan ketika bersenyawa dengan partikel-partikel asing, proses pemakanannya melalui sel0sel yang menelan, sebagaimana antibodi tersebut melakukan rangsangan terhadap sistem pelengkap yang bekerja merusak benda-benda asing.

Patut disebutkan di sini bahwa setiap sel limfosit B atau T di permukaannya membawa reseptor khusus yang memberinya kemampuan mengidentifikasi satu jenis badan asing saja. Reseptor ini dalam sel B terdiri dari antibodi dan imunoglobulin M (Igm) dan D (IgD), adalah dalam sel T terdiri dari 2 seri peptida.

Ketika badan asing manapun menginfeksi tubuh manusia, sel-sel limfosit B dan T yang membawa reseptor khusus untuk badan asing tersebut, beraksi, mengidentifikasinya, memakannya, kemudian membiak dengan membelah diri sehingga menjadi sebuah pasukan besar sel kekebalan. Adapun sel-sel limfosit lainnya yang membawa berbagai reseptor yang berbeda-beda, tidak berpartisipasi dalam proses pertahanan. Sel-sel tersebut menetap sampai ada badan asing yang sesuai dengan reseptornya. Selama terjadinya proses ini, antibodi dan sel-sel spesifik menyebar dalam darah dan jaringan. Ini terus berlangsung dalam jangka waktu lama, sampai bebera bulan atau beberapa tahun.

Sel-sel Memori (Memory Cell) dalam Sistem Kekebalan

Pada saat terjadi respon kekebalan dan pembiakan sel-sel kekebalan, terbentuk sel-sel spesifik dari limfosit B dan T yang disebut dengan sel-sel memori yang menyimpan setiap data terperinci dan akurat tentang partikel yang menyerang tubuh setelah dimusnahkan.

Sel-sel Memori B (Memory B-Limfochytes) terdiri dari beberapa sel limfosit B setelah menerima rangsangan. Sel-sel ini berenang di dalam setiap badan, tinggal di dalamnya, sehingga bisa mengingatkan sekali lagi adanya antigen yang sama dalam kasus infeksi berikutnya, sehingga dengan segera merangsang sel-sel limfosit B untuk memproduksi antibodi dalam jumlah besar dan secara cepat.

Adapun sel-sel memori T (Memory T Lymphocytes), terdiri dari sel-sel limfosit T yang telah menerima rangsangan yang tersimpan dalam jaringan limfa di dalam tubuh. Letika tubuh menghadapi badan penyerang yang sama, maka ia kembali merangsang dengan cepat sel-sel T spesifik dan dari situ akan diproduksi antibodi dalam jumlah besar dan secara cepat, sebagaimana proses yang sama yang terjadi pada sel-sel memori B.

Dengan demikian, tubuh manusia dilindungi dari bahaya-bahaya sejumlah besar partikel kecil dan badan asing yang menyerang tubuh setiap saat. Inilah dasar dari dibangunnya ide tentang vaksinasi.

Sumber : Keajaiban Thibbun Nabawi, Aman bin Abdul Fathah, Al Qowam Solo 2005

Related Posts

Subscribe Our Newsletter