Penjelasan Para Ulama terhadap Hadits-hadits tentang Habbatus Sauda


Bukhori meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw., bersabda :


أِنَّ هذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ أِلاَّ مِنَ السَّامِ,قُلْتُ : وَمَا السَّامُ ؟ قَالَ : الْمَوْتُ


Sungguh dalam habbatus sauda itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam. Saya bertanya, apakah as-sam itu? Beliau menjawab, Kematian (Shohihul Bukhori [5687])

مَامِنْ دَاءٍ أِلاَّفِيْ الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ مِنْهُ شِفَاءٌ أِلاَّالسَّامَ

Tidak ada satu pun penyakit, kecuali obatnya terdapat pada habbatus sauda, kecuali kematian. (Shohih Muslim [2215])

Sahabat terapi jarum, Para ulama muslim terdahulu berbeda pendapat dalam menafsirkan hadits-hadist habbatus sauda, sesuai dengan pengetahuan yang ada pada masa mereka. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud bukan makna umum, melainkan dimaksudkan untuk makna khusus.

Al Munawi berkata, 
“Ia menyembuhkan segala penyakit yang timbul karena adanya unsur basah (ruthubah). Tetapi, habbatus sauda tidak dikonsumsi sendirian sebagai obat, melainkan kadang-kadang digunakan campuran obat lain dan kadang-kadang digunakan sendiri tanpa campuran, tergantung kebutuhan penyakit.”

Ibnu Hajar Al Asqolani juga berkomentar seperti di atas, hanya saja menambah komentar mengenai “setiap penyakit”. Kata beliau, “Maksudnya setiap penyakit yang bisa diobati dengannya, karena sesungguhnya habbatus sauda ini bermanfaat untuk mengatasi penyakit-penyakit yang disebabkan unsur dingin (barid). Adapun penyakit-penyakit yang disebabkan oleh unsur panas (harr), tidak bisa

Al Khoththobi berkata, 
“Itu termasuk kategori kalimat umum, tetapi dimaksudkan untuk makna khusus. Sebab, tidak ada tumbuhan yang memiliki sifat menghimpun segala karakter yang bisa menghadapi segala karakter lain dalam mengobati semua penyakit dengan kebalikannya. Tetapi, yang dimaksudkan adalah penyembuh segala penyakit yang terjadi disebabkan oleh adanya unsur basah (ruthubah).”


Abu Bakar bin Al Arobi berkata,
“Menurut para dokter, madu lebih mendekati untuk dikatakan ‘bisa menyembuhkan segala macam penyakit’, dibandingkan habbatus sauda. Jika firman Allah mengenai madu ‘di dalamnya terdapat kesembuhan’ dimaksudkan untuk sebagian besar penyakit, maka habbatus sauda pun lebih tepat bila ditafsirkan demikiian.”

Adapun penulis kitab Tuhfatu ‘l-Ahwadzi yang tetap menafsirkan hadits-hadits habbatus sauda sesuai dengan keumuman maknanya, mengatakan, “Hadist-hadits Nabi tersebut harus dipahami sesuai dengan keumumannya, karena dalam hadits tersebut terdapat sabda beliau ‘kecuali kematiah’. Seperti firman Allah, ‘Demi masa. Sungguh, manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholih, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran’.”

Kemudian ia berkata lagi, “Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata, ‘Banyak orang memperbincangkan makna hadits ini. Mereka mengkhususkan keumuman maknanya dengan mengikuti pendapat para pakar kedokteran dan ahli eksperimen. Tidak diragukan, pendapat seperti itu keliru. Sebab, jika kita percaya kepada pakar kedokteran, sedangkan kebanyakan ilmu mereka didasarkan pada eksperimen yang berlandaskan dugaan kuat (hipotesis), amak mempercayai Nabi yang tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsu, melainkan berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepada beliau, lebih tepat daripada mempercayai pendapat mereka’.”

Related Posts

Subscribe Our Newsletter