Kam’ah Bagian dari Al Mann, Airnya Menyembuhkan Mata (Bukhori [5708] dan Muslim [2049])

Kam’ah-Bagian-dari-Al-Mann,-Airnya-Menyembuhkan-Mata-(Bukhori-[5708]-dan-Muslim-[2049])

Dr. Mu’tazz Marzuqi, (Mesir, Hai’atul Ijazil Ilmi, edisi Syawah 1421 H.) merupakan penulis tentang Kam’ah Bagian dari Al Mann, Airnya Menyembuhkan Mata (Bukhori [5708] dan Muslim [2049]), meringkaskan poin-poin pentingnya sebagai berikut :

Ibnu Sina menyebutkan bahwa air kam’ah direbus, kemudian didinginkan, kemudian digunakan untuk celak. Kam’ah adalah salah satu jenis jamur yang tumbuh di bawah permukaan tanah hingga kedalaman kurang lebih 30 sentimeter, biasanya bergerombol. Jamur ini termasuk famili tyobrus

Kadang-kadang ia tumbuh di dekat pelepah pohon. Jumlah satu kelompok biasanya berkisar antara sepuluh hingga dua puluh. Badannya bulat berdaging, lunak dan teratur, permukaannya halus atau berbintik-bintik, bentuknya bundar, warnanya berbeda-beda, ada yang keabu-abuan, ungu, hingga hitam.

Kam’ah banyak berada di tanah Jazirah Arab. Juga ada di Syam dan Mesir. Di Eropa juga ada, khususnya Prancis dan Italia. Jenis Kam’ah yang terbaik adalah yang kecil dan tumbuh di tanah berpasir.

Ciri-ciri Kam’ah

Orang-orang Arab menyebutnya nabatur rod (tumbuhan petir), karena ia tumbuh banyak apabila banyak terdapat petir, ditumbuhkan oleh hujan di musim semi, seiring dengan terjadinya petir dan turunnya hujan. Sabda Nabi, “Termasuk Al Mann”, (karunia) bagi hamba-hamba-Nya. Ia bukan tumbuhan, bukan hewan, tidak memiliki karakteristik tumbuhan, tidak mempunyai daun, akar, batang atau bunga. Ia juga tumbuh tanpa perlu benih, pengolahan tanah, penanaman dan pengairan. Ia dikaruniakan oleh Allah kepada kita begitu saja. Lebih dari itu, ia tidka bisa ditanam dan dibudidayakan.

Semua risel ilmiah menegaskan bahwa setiap upaya budi daya kam’ah selalu berakhir dengan kegagalan, sehingga ia masih tetap merupakan karunia Allah yang diberikan begitu saja kepada kita. Hadits Rosullah Saw., tersebut pun masih merupakan mukjizat hingga Allah kelak mewarisi bumi dan siapa saja yang ada di atasnya.

Sumber : Keajaiban Thibbun Nabawi, Aman bin Abdul Fathah, Al Qowam Solo 2005

Related Posts

Subscribe Our Newsletter